Tuesday, July 10, 2012

Mungkin Bukan Aku-cerpen fiksi

Siang ini suasana di depan Jalan Kemiri Salatiga sangat gaduh. Teriakan dan suara lemparan batu terdengar bersahut-sahutan. Sekarang memang sedang terjadi tawuran hebat antara dua sekolahan, SMA Tunas Harapan dan SMK Budi Luhur.  Salah seorang dari Tunas Harapan terlihat memberi aba-aba kepada temannya yang lain. Lima menit berlalu, Budi Luhur terlihat kehabisan tenaga dengan pasukan yang makin lama makin berjatuhan. Kemenangan Tunas Harapan sudah terlihat di depan mata, tapi sayang beberapa menit kemudian sirine polisi mulai terdengar. Semua pasukan dari dua sekolah itupun berlarian kabur. Cowok yang tadi memimpin pasukan dari Tunas Harapan terlihat sangat pucat, pasalnya dia sedang dikejar 3 polisi. Dengan seluruh tenaga dia berlari sangat kencang menelusuri jalan kecil di belakang kampus Satya Wacana, ini adalah jalan yang menurutnya paling oke untuk kabur. Tapi untuk kali ini sedikit berbeda, kakinya sedang bermasalah dan polisi di belakangnya terlihat sangat bernafsu. “Akh, gawat!” umpatnya saat melihat ke belakang. Otaknya yang pas-pasan itu sedang berkerja keras mencari jalan keluar sekarang. Di belokan belakang kampus tiba-tiba dia masuk ke dalam sebuah tempat makan dengan papan ‘happy chicken’ di depannya. Polisi mungkin tidak melihat karena belokan yang dia lewati tadi cukup tajam. Itu harapannya.
Dengan santai cowok itu duduk tepat di depan seorang gadis yang sedang makan sendiri. Tentu saja mereka tidak saling kenal.
            “Eh siapa kamu?” gadis itu terlihat sangat kaget. Seorang cowok tiba-tiba duduk di depannya. Rambutnya sedikit gondrong, wajahnya kucel penuh dengan keringat, nafasnya terengah-engah.

            “Iyon, aku Iyon.” Cowok yang bernama Iyon itu mengatur nafasnya perlahan. Tangannya menghapus keringat sampai sekotak tisu di meja itu nyaris habis. Lalu dia mengenakan jaket dari tasnya.
            “Iyon siapa? Aku nggak kenal kamu” Gadis itu sedikit ketakutan.
            “Pokoknya sekarang tolongin aku, aku lagi dikejar polisi”
            “Polisi??” nyaris gadis itu berteriak kalau saja Iyon tidak mengisyaratkannnya untuk diam. “Mana polisi?” Dia melongok ke depan mencari sosok polisi. Terlihat seorang polisi lewat di depan restaurant itu.
            “Bodoh. Pura-pura nggak tau dong” Iyon mengalihkan kepala gadis itu ke hadapannya saat menyadari polisi itu sedang melihat ke arah mereka. Iyon mencubit pipinya. “hahahaha. Lucu ya kamu”
            “Hahaha. Iya, kamu juga lucu hehehe”
            “Nasi tuh di bibir kamu”
            “Hehehe iya nih, nasi”
Kalau saja polisi lebih meperhatikan, gadis itu bertingkah kaku dan tidak ada makanan di depan sang cowok. Sangat terlihat seperti sandiwara. Namun beruntung, polisi itu tertipu.
“Akhirnya polisi bodoh itu pergi... haha” Iyon tertawa puas ketika mengetahui polisi itu sudah jauh. “aku pergi ya, bye!”
***
“wkakakakakakak!” Ardi dan Fisal terbahak-bahak setelah mendengarkan cerita sahabatnya itu. Sekarang mereka sedang berada di kost milik Faisal. Satu menit mungkin mereka tertawa sedangkan Iyon cuma nyengir menyadari tingkahnya kemarin.
“Gila lo men wkkakakak” Ardi meninju bahu Iyon
“haha kalo nggak gitu mana bisa bebas dari polisi sialan. Mana kaki pake suloyo lagi, akh sial”
“iya men, salut deh buat kamu. Tambah salut lagi buat cewek penolongmu itu haha” Faisal tertawa menggoda Iyon. “Eh siapa namanya?”
“Nama?” Iyon menyadari dia lupa sesuatu “aku lupa tanya namanya! Belum bilang makasih lagi!”
“Tolol banget toh! Dia penyelamat, bro!”
“biarin aja lah. Anggep aja dia malaikat turun dari langit buat bantu kamu hahaha” Ardi menenangkan
“Nggak bisa gitu dong! Emm.. tunggu dulu! Dia pake bet yang gambarnya gajah. Dia SMA Negeri 1 men! Namanya kalo nggak salah Fani! Waaaah iya!!” Iyon merasa sangat pintar “Men, kalian punya kenalan anak situ gak? Tanyain kenal sama Fani nggak dong”
“Oke, bentar deh” Ardi dan Faisal meraih hpnya masing-masing untuk mencari tahu tentang fani. Beberapa menit berlalu namun baik Ardi, Faisal maupun Iyon mendapatkan hasil nihil. Raut wajah Iyon terlihat kecewa.
“Gakpapa lah bro, yang penting udah usaha”
***
Siang ini sangat membosankan bagi seluruh anak X-1. Bagaimana tidak, pelajaran terakhir adalah kimia, ulangan pula. Begitu bel pulang sekolah berbunyi, tak dapat disembunyikan kegembiraan itu. Semuanya bersorak meskipun kertas mereka tidak terisi penuh atau bahkan belum terisi sama sekali.
“Ra, mau langsung pulang?”
“Makan di kantin dulu, laper. Habis itu ke Chinmi ya? Mau ngembaliin komik nih. Denda udah seabrek”  kedua sahabat itu berjalan keluar bersama. Di depan gerbang langkah mereka terhenti. Salah satu dari mereka melihat seorang cowok yang tak asing sedang melihat ke arah sekolahnya seperti mencari seseorang. Ia kaget ketika bertatap mata dengan cowok itu, hendak balik badan namun cowok itu terlanjur memanggil.
“Hai kamu! Fani!” Iyon, cowok itu menghampiri.
“Emm, kamu duluan deh Ra, aku ada urusan sama dia”
“kamu kenal dia? Oke, aku ke chinmi duluan”
Sekarang tinggal mereka berdua saja. Sekolah sudah agak sepi sekarang.
“Ada apa sih kesini? Nggak dikejar polisi lagi?” ia melongok seolah-olah mencari polisi
“Bisa aja deh.. hahahaha”
 “Aku lagi nggak ngelucu.”
“Emm oke, masih inget siapa aku kan? Hehe. Aku mau ngucapin makasih buat waktu itu Fan”
“Oh, iya sama-sama”
“Waktu itu SMA 2 tawuran, terus polisi dateng. Ehh tiga orang polisi ngejar aku! Bingung deh mau kemana. kebetulan ada kamu Fan”
“Aku nggak nanya..”
“Ih tau gak sih aku nyari kamu itu susah setengah mati! Kamu nggak terkenal ya fan? Susah banget sih cari kamu”
“Rese banget sih! Lagian dari tadi fan fan terus, namaku Famy bukan Fani!” Iyon mlongo, pantas saja semua orang yang ia kenal di SMA 1 tidak ada yang kenal Fani. “Udah ya Yon, aku mau nyusul temenku tadi”
Tanpa memperdulikan Iyon, Famy berjalan pergi.
***
Malam ini Iyon sedang memikirkan kejadian tadi sore. Iyon tidak menduga, Famy cantik. Tidak terlalu cantik, manis lebih tepatnya. Mungkin karena di ‘happy chicken’ Iyon tidak terlalu  memperhatikan, ia sibuk mencari cara menghindari polisi. Yang paling membuatnya penasaran, Famy itu... Jutek. Dengan senyum, diraihnya hp dan mulai mengetik sebuah pesan singkat.
Iyon berharap saat itu juga hpnya bergetar. Semenit hp itu tetap diam, lima menit, lima belas menit, sampai setengah jam akhirnya Iyon membuka hpnya kegirangan, dua pesan masuk. Yang pertama dari Luknia—mantannya yang masih ngejar-ngejar, yang kedua..
 Iya, aku Famy. km siapa?
Secepat kilat Iyon membalas. Namun, berjam-jam menunggu hp itu tetap bisu sampai ia tertidur.
***
Hari demi hari berlalu semenjak iyon mengenal Famy. Setiap hari hp Famy selalu bergetar, memang jarang ia balas.  Tapi bukan karena nggak mau atau malas, tapi karena kegiatan sekolahnya yang padat dan tugas-tugas yang masyaAllah banyaknya. Sementara itu Iyon semakin semangat mendekati Famy. Bahkan sekarang Iyon tahu letak rumah Famy saat maghrib waktu itu. Saat Famy hendak pulang dari rapat di seolahnya. Ia bingung isuzu tinggal satu padahal sudah jam 6, masih kosong pula. Tiba-tiba motor berhenti tepat di depan ia berdiri menawarkan bantuan, itu Iyon.
“Makasih ya”  Famy tersenyum saat turun dari motor, ia sudah di depan rumahnya “maaf ngerepotin”
“Oke! Anything for you hehe” Iyon nyengir lebar. Lesung pipinya terlihat sangat manis. Sehabis sore itu mereka semakin dekat. Famy bisa merasakan ia sedang PDKT sekarang.
***
“Famy, punya gitar?”
“Gitar? Ada sih.. buat apa?”
“Buat nimpuk kamu!” Iyon memasang wajah serius “hahaha buat dimainin lah”
Famy pergi ke kamarnya dan kembali dengan membawa gitar yamaha miliknya. Jreeenng Iyon membenarkan nada dasar gitar lalu bernyanyi. Famy melihat Iyon dengan serius. Sambil bernyanyi Iyon menatap mata Famy lekat-lekat. Yang ditatap sempat salah tingkah, cepat-cepat ia mengalihkan pandangan.
Ku ingin kau menjadi milikku.. Entah bagaimana caranya.. Lihatlah mataku untuk memintamu.. Ku ingin jalani bersamamu.. Coba dengan sepenuh hati.. Ku ingin jujur apa adanya.. Dari hati (Club 80’s-Dari Hati)
“Famy, aku sayang sama kamu” Iyon berhenti bernyanyi dan meraih tangan Famy. Sempat risih juga, wajah Famy jadi bersemu merah. “Kamu mau jadi pacarku?”
Hening beberapa menit, mereka sibuk dengan pikiran masing-masing. Famy menatap mata Iyon berusaha mencari kesungguhannya.
***
Famy dan Iyon sekarang resmi berpacaran. Satu sekolah Famy heboh pasalnya pacar Famy bersekolah di SMA Tunas Harapan, sekolah yang hobi tawuran itu. Begitupun Iyon, teman-temannya sibuk membicarakan pacar barunya yang berkerudung. Iyon memang terkenal playboy dan urakan. Mantan-mantannya yang masih cinta sibuk cari tahu tentang Famy, bahkan ada yang sms jahil.
Dua bulan mereka bersama, Iyon memang sangat perhatian. Pulang sekolah selalu menjemput Famy, selalu siap datang saat Famy mengirim sms ‘aku kesepian dirumah’. Tapi akhir-akhir ini berbeda. Iyon sangat jarang menjemputnya di sekolah. Meskipun ia selalu memberi alasan, tetap saja famy merasakan hal yang aneh.
Seperti sekarang ini, Iyon tidak menjemput Famy—lagi. Bahkan memberi kabar sms atau telponpun tidak. Famy sempat memikirkan hal-hal aneh, namun ia berusaha meyakinkan dirinya sendiri “semua akan baik-baik saja, aku percaya Iyon”. Sorenya Famy sangat senang, Iyon datang ke rumahnya dengan setangkai mawar putih.
“Kamu kenapa sih akhir-akhir ini, Yon?” Famy memperlihatkan wajah sedihnya.
“Maaf ya sayang.. aku..”
“nggak papa kok. Aku tau kamu punya alasan sendiri, yang penting sekarang kamu udah disisni”
“Makasih Amy, aku sayaaaaang sama kamu deh”
Tiba-tiba Iyon melingkarkan tangan kiriya di bahu Famy disusul tangan kanannya di leher, seolah olah Iyon akan memeluk Famy. Belum sempat berpikir sedetik kemudian Famy merasakan wajah Iyon yang semakin dekat. Ia sangat gugup, jantungnya berdetak kencang. Ketika Famy tersadar, ia mendorong Iyon cukup keras. Niat Iyon untuk mencium pipi Famy gagal. Ia tersentak.
“Kamu kenapa sih Yon?!” Famy berkaca-kaca.
“aku cuma minta peluk Famy! Lagian juga cium pipi kok..”
“aku udah bilang dari awal kita pacaran, aku gak suka dipeluk apalagi cium!”
“akh!” Iyon terlihat gusar “kalo pacaran kayak gini gimana aku bisa nyaman sama kamu hah??”
“apa kamu bilang?? Kalo gini mending, kita putus”
“hmm, okeee!!” Iyon menatap Famy sejenak dan berlalu. Ia terlihat sangat gusar, motornya dikendarai sangat kencang.
Sementara itu Famy masih terpaku. Napasnya tidak beraturan. Air mata yang sedari tadi ia tahan akhirnya berjatuhan. Ia masih tidak percaya apa yang barusan dialaminya. Selama ini Famy sangat percaya Iyon. Ia percaya janji Iyon dulu—akan menjaga Famy. Tapi sekarang? Janji itu sudah dinodai. Semua semakin jelas bagi famy setelah Iyon mengirim sebuah pesan malam itu.
Kalo emang km maunya kayak gini gak apa*! Lama-lama aku bosan kalo pacaran flat kayak gini! Kamu nggak usah sok suci Fam, baru kali ini aku ditolak cewek. Aku minta maaf aku ingkar janji.
***
“Udah lah Am, jangan murung kayak gitu terus dong. Move on!!” Rara menatap sahabatnya iba. Sudah tiga bulan semenjak kisahnya dengan Iyon berakhir. Saat mendengar cerita Famy dulu, Rara sempat berniat mendatangi Iyon langsung namun berhasil dicegah Famy. Bagaimana tidak marah kalau sahabatnya disamakan dengan mantan Iyon yang lain. Walaupun sekarang, faktanya, setengah dari anak remaja rela memberikan apa saja untuk pacarnya. Sebagian orang bilang “kalo Cuma peluk sih tak kasih”. Tapi bagi Rara dan Famy, komitmen itu penting.
“yeee, siapa yang murung sih Ra? Aku udah move on kok. Aku udah nggak suka Iyon”  Famy memajukan bibirnya beberapa senti. “aku lagi mikirin sms tadi malem itu lho. Kira-kira aku dateng gak ya?”
“sms dari kakaknya Iyon itu? gak usah berhubungan sama Iyon lagi deh”
“aku penasaran banget Ra. Lagian gak enak juga kalo nggak dateng” Famy beranjak dari kasurnya, mandi lalu berdandan. Ia tidak memperdulikan Rara yang sibuk ngoceh tentang nasehat-nasehatnya itu.
“kamu disini dulu ya Ra, jangan pulang. Doain aku, byee!” Famy berlalu.
Di sebuah Cafe di Salatiga, Famy sedang mencari seseorang yang sudah punya janji dengannya. ia tersenyum ketika melihat seorang wanita melambaikan tangan ke arahnya. Famy sempat tak yakin, pakaian wanita itu sangat seksi—terlampau seksi.
“duduk” wanita itu tersenyum. Famy duduk di depannya. “mau pesen apa?”
“jus alpukat aja, mbak”  
“Oke” wanita itu memberikan menu pada pelayan Cafe. “Kenalin, aku Ratu. Kakaknya Iyon”
“Famy mbak” Famy membalas uluran tangan wanita bernama Ratu itu.
“Aku nggak mau Iyon jadi kayak aku Fam.” Ratu membuka pembicaraan. “Aku kabur dari rumah 1 bulan yang lalu gara-gara pekerjaanku yang sekarang—Pendamping Karaoke sebuah karaoke di daerah Sembir. Sejak saat itu keluargaku jadi bermasalah. Iyon menanggung semua ini. Waktu dia jarang jemput kamu, dia sibuk nyari aku Fam. Iyon berharap keluargaku kembali seperti dulu lagi.”
Pesanan datang. Ratu menyeka air matanya yang menggenang lalu melanjutkan cerita lagi “hari dimana kamu putus, Iyon berhasil nemuin aku. Dia kaget banget aku jadi PK. kamu tahu PK cenderung disangkut pautkan dengan pelacur, tapi aku nggak kayak gitu. Emang sih terdengar murahan nemenin orang karaokean untuk mendapatkan banyak uang. Orang tuaku marah, kami bertengkar hebat. Iyon frustasi, akhirnya dia dateng ke rumah kamu. dia pengen banget cari kenyamanan, kehangatan, makanya dia mau meluk kamu. kamu satu-satunya orang yang dia percaya Fam. Saking frustasinya dia sampe mau nyium kamu. tapi itu nggak sengaja Fam, aku berani sumpah. Kata temen-temen Iyon, pertama kalinya dia serius itu ya sama kamu. walaupun aku tahu gaya pacaran Iyon kayak apa, tapi dia nggak berniat sama sekali buat ngerusak kamu.. percaya deh”
Famy menelan ludah, sekuat tenaga ia angkat bicara “Tapi mbak, janjinya dulu dia ingkari! sms Iyon waktu itu juga bikin sakit hati.”
“Kamu sadar nggak sih dia nyesel banget?! Saking nyeselnya pulang dari rumah kamu, dia nuding pisau ke kakaknya sendiri! Katanya aku penyebab kalian putus katanya aku kakak nggak berguna, aku brengsek. Tapi bukannya nusuk aku, dia malah melukai telapak tangannya sendiri.” Ratu terisak. Ia mengumpulkan tenaganya lalu melajutkan cerita “Iyon meluk aku dan minta maaf gagal mempersatukan keluarga kami lagi, aku jadi merasa berdosa. Gara-gara aku sekarang Iyon keluar sekolah. Dia nggak bisa bahagia gara-gara aku”
Famy terenyak. Ia sama sekali tidak menyadari kondisi keluarga Iyon yang seperti itu. Selama ini yang dia tahu Iyon perhatian kepadanya dan famy suka itu. Iyon tahu semua tentang Famy, tapi Famy tidak. Bahkan dia sudah berhenti sekolahpun famy tidak tahu. Saat itu juga Famy merasa bersalah.
***
Jam menunjukan pukul 7 malam, Iyon baru saja pulang dari rumah Theo. Berhubung motornya disita semenjak keluar sekolah, ia harus berjalan kaki walaupun Theo sudah menawarkan bantuan tadi. Iyon melewati jalan alternatif yang menurutnya lebih dekat untuk sampai ke pusat kota. Jalanan sangat sepi, lebih sepi dari biasanya. Keadaan yang sedikit janggal membuat Iyon berfirasat buruk. Bukan karena ia sedang melewati kuburan China, tapi derap langkah seseorang terdengar mengikutinya. Ketika Iyon menoleh ke belakang..
Buuuk! Seseorang memukul Iyon hingga ia jatuh tersungkur. Dengan cepat Iyon berdiri dan buuuk ia membalas pukulan orang itu. perkelahian terjadi, tentu saja Iyon memenangkan duel. Di bawah remang lampu Iyon mengenali sosok orang itu. Ia adalah Pras, pemimpin dari rombongan SMK Budi Luhur. “keluar!” kata Pras lirih. Iyon terenyak, ia menyadari yang mengikutinya bukan hanya Pras saja. Sedetik kemudian antek-antek Pras keluar dari tempat persembunyiannya. Jumlahnya sekitar 10 orang. Sebagaimana hebatnya Iyon, walaupun anak buah Pras sempat kewalahan meladeninya tetap saja ia remuk melawan 10 orang. “denger ya Yon, kasih tau anak buah kamu. kita lebih hebat dari kalian! Cih” Pras dan anak buahnya pergi saat menyadari Iyon sudah tumbang. Badannya penuh darah dan memar parah. Dengan seluruh tenaga yang tersisa iyon meraih hpnya yang tergeletak di jalan. Ia menulis sebuah pesan teks.
***
Hp Famy berbunyi. DEG! saat Famy membaca pesan itu ia langsung izin mamanya keluar. Famy memacu motornya dengan sangat kencang.
“Iyooooon!” Famy berteriak saat melihat Iyon tesungkur di bawah pohon yang tersembunyi. Susah payah famy mencarinya. “Iyon kamu kenapa?” Ia tidak percaya yang sedang dipangkuannya sekarang adalah Iyon. Kondisinya benar-benar buruk.
“Fa..Famy.. kamu apa kabar?” Iyon terbata-bata. Susah payah ia berbicara “aku mau minta maaf hhhh”
“Iya Yon, aku udah tau semuanya.. aku udah maafin kamu. Aku juga harusnya minta maaf udah ngecewain kamu. aku nggak ada saat kamu butuh aku. Aku minta maaf Yooon” Famy terisak.
“Syukurlah, aku puas sekaranghhh kamu udah maafinhhh aku. Aku sayang kamu famhh.. tapi aku sadarhh aku nggak pantes buat kamu. aku brengsek. Waktu aku bilang kamu sok suci, maksut aku kamu benerhhh-bener cewek baikhh.” Iyon menarik napas berkali-kali “aku seneng sekarang aku kayak gini hhh”
“Seneng? Maksud kamu apa Yon?! Siapa yang berani buat kamu kayak gini??!”
“Paling nggak aku dapet balesan hhh udah nyakitin kamu hhh” Iyon tersenyum. Lesung pipi yang dirindukan Famy itu terlihat sangat manis. “Ka..kamu mau ngasih kesempatan buat aku hh lagi?”
Famy berhenti sejenak. Ia memang merindukan saat-saat ini, tapi itu dulu. “Yon, aku.. aku.. udah suka orang lain. Walaupun cowok itu nggak suka aku” Famy nggak berani menatap mata Iyon. Ia menundukkan kepala. Rasanya tidak tega. Tapi jauh dari perkiraannya, Iyon tersenyum.
“Ma.. makasih kamu nggak nerima aku dengan terpaksa Fam hhh. Tunggu aku, hhhh aku bakal kembali kalau udah benar-benar berubah jadi cowok baik, akhh!” Mata Iyon terlihat sangat berat, seketika Iyon merasa semuanya menjadi gelap.
***
Sejak saat itu setelah Famy, Faisal dan Ardi mengantar Iyon ke rumah sakit, Iyon seperti menghilang. Famy tidak bisa menghubungi nomer hpnya. Teman-temannya juga seperti kehilangan jejak Iyon. Padahal mereka ingin memberi kabar baik tentang keberhasilan balas dendam kepada Pras dan anak buahnya, bahkan Pras sudah minta maaf. Orang tuanya sih bilang Iyon meminta izin cari kerja ke luar kota. Entahlah, yang penting Famy berharap kata-kata Iyon untuk menjadi cowok baik-baik itu benar. Meskipun bukan bersamanya, Famy yakin Iyon akan bahagia.

0 comments:

tamiadwimartha.blogspot.com

tamiadwimartha.blogspot.com